Selasa, 31 Januari 2012

PEMBELAJARAN KEGIATAN TUNGKU HEMAT ENERGI YAYASAN DIAN DESA

A.  Pembelajaran Kegiatan Tungku Hemat Energi

Kegiatan Tungku Hemat Energi ini telah dijalankan oleh Yayasan Dian Desa sejak tahun 1990. Kegiatan Tungku Hemat Energi dikembangkan di desa-desa yang masih menggunakan kompor tungku sebagai alat memasak. Kompor tungku yang biasa digunakan masyarakat desa untuk memasak merupakan kompor tungku tradisional yang terdiri dari tiga lubang kuali akan tetapi tidak memiliki alat pengeluaran asap (cerobong) sehingga asap hanya mengepul di ruangan dapur. Selain itu tungku tradisional ini masih memiliki celah di lubang kuali sehingga panas api tungku dapat keluar dan proses pemasakan kurang sempurna karena memakan banyak waktu untuk memasak.
Inti dari Kegiatan Tungku Hemat Energi ini adalah untuk menyediakan tungku yang hemat energi dan bersih kepada masyarakat. Lebih hemat energi karena tungku ini memiliki penutup celah pada lubang kuali sehingga panas tidak akan keluar dan proses pemasakan lebih cepat, lebih sedikit menghabiskan kayu bakar. Lebih bersih karena tungku ini memiliki cerobong asap yang langsung dihubungkan keluar ruangan sehingga asap hasil pemasakan tidak mengotori ruangan dapur. Dampak positif lain yang akan dirasakan jangka panjang adalah terhindarnya proses penggundulan hutan serta terjaminnya kesehatan masyarakat. Proses penebangan pohon di hutan untuk memenuhi kebutuhan kayu akan dapat dikurangi karena kayu sebagai bahan bakar tungku yang dibutuhkan akan lebih sedikit. Selain itu penyakit paru-paru dan saluran pernafasan yang banyak menjangkiti masyarakat desa dapat terhindarkan dengan adanya dapur yang lebih bersih dan bebas asap.

Gambar Tungku Hemat Energi Yayasan Dian Desa


Proses yang dilakukan Yayasan Dian Desa untuk menyebarluaskan tungku hemat energi ini adalah sebagai berikut:
1.      Sosialisasi dan promosi kegiatan tungku hemat energi serta kegiatan dapur sehat melalui poster dan pembagian kaos
2.      Pemberian pelatihan bagi warga untuk pembuatan tungku hemat energi
3.      Pembuatan contoh tungku hemat energi (1 contoh)
    
     Dalam kegiatan tungku hemat energi ini, kami diajak oleh Yayasan Dian Desa ke Pedukuhan Gunungrejo, Kelurahan Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo. Kegiatan tungku hemat energi di Pedukuhan Gunungrejo sudah dimulai sejak tahun 2005. Sejak tahun 2005, Yayasan Dian Desa telah bekerjasama dengan Pedukuhan Gunungrejo dalam pembuatan gula merah. Sebagai penghasil gula merah, masyarakat pedukuhan Gunungrejo menggunakan tungku tradisional untuk mengolahnya. Hal ini menjadi kurang efektif karena waktu pengolahan yang cukup lama serta timbulnya banyak asap akibat proses pemasakan yang memakan waktu hingga enam jam. Inilah yang memberikan ide bagi Yayasan Dian Desa untuk menciptakan sebuah tungku yang lebih hemat energi dan lebih bersih.
     Pada awalnya, tungku yang diciptakan oleh Yayasan Dian Desa adalah tungku yang terbuat dari tanah liat (gerabah). Namun, karena membutuhkan waktu yang banyak dalam pembuatannya (proses mencetak dilakukan dengan tangan sehingga memakan banyak waktu), juga bahannya yang mudah pecah tidak bertahan lama akhirnya bahan baku tanah liat diganti dengan semen. Bahan baku semen lebih tahan lama, serta pembuatannya lebih mudah dan cepat karena dapat dicetak menggunakan cetakan. Pada akhirnya saat ini tungku hemat energi dengan semen inilah yang dikembangkan di Pedukuhan Gunungrejo.
     Kegiatan tungku hemat energi ini kurang berjalan dengan baik di Pedukuhan Gunungrejo. Hanya sedikit penduduk yang mau membeli bahan dan membuat tungku hemat energi ini. Dari hasil wawancara kami dengan masyarakat Pedukuhan Gunungrejo, beberapa hal yang menjadi penyebab enggannya masyarakat membuat tungku hemat energi ini adalah:
1.      Modal mahal
Harga tungku hemat energi tiga kali lebih mahal daripada harga tungku tradisional. Harga tungku tradisional (yang biasa disebut tungku kulur) berkisar Rp 60.000,00 - Rp 65.000,00, sedangkan tungku hemat energi membutuhkan biaya Rp 200.000,00 untuk modal, selain itu warga harus merancang sendiri tungku tersebut.
2.      Lebih sulit untuk memanggang kayu basah
Musim yang tidak menentu akhir-akhir ini memaksa warga masyarakat untuk memasak, bahkan terkadang terpaksa harus menggunakan kayu basah. Tungku tradisional biasanya dapat digunakan untuk memasak dengan jenis kayu apapun, bahkan dalam keadaan basah. Hal inilah yang menjadi salah satu keluhan warga karena tungku hemat energi tidak dapat memasak dengan menggunakan kayu basah.
3.      Kesadaran masyarakat untuk kepentingan jangka panjang belum ada
Selama ini masyarakat lebih mementingkan kepentingan jangka pendek, bagaimana untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar (makan) hari ini tanpa memikirkan dampak panjangnya. Oleh karena itu, masyarakat Pedukuhan Gunungrejo lebih memilih tetap menggunakan tungku tradisional yang lebih murah dan tidak perlu repot-repot membuat sendiri.
4.      Tungku hemat energi kurang bisa menyesuaikan kebiasaan masyarakat
Kebiasaan masyarakat pada saat memasak adalah memastikan api dalam keadaan cukup besar sehingga proses pemasakan lebih cepat. Akan tetapi tungku hemat energi tidak memungkinkan hal tersebut. Lubang tungku hemat energi ditutup agar panas tidak keluar tungku sehingga api tidak dapat terlihat dari luar. Hal ini membuat warga berpendapat tungku hemat energi tidak mengeluarkan api sehingga warga kurang menyukainya. Selain itu, tungku hemat energi menjadi lebih sulit dihidupkan ketika satu atau dua hari tidak digunakan memasak.

B.   Evaluasi Kegiatan Tungku Hemat Energi

     Evaluasi kegiatan tungku hemat energi dari Yayasan Dian Desa yang dilaksanakan di Pedukuhan Gunungrego, Kelurahan Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo ini didasarkan pada tiga kriteria: Efektifitas, Sustainability, dan Replicability.

1.      Efektifitas
  • Efektifitas program mengukur kesesuaian target, kemanfaatan program menghadapi persoalan yang ada, serta mengukur ada tidaknya penyimpangan program yang berdampak pada munculnya dampak sampingan.
  •  Target  telah sesuai, yaitu masarakat menengah ke bawah di daerah pedesaan yang masih menggunakan kompor tradisional.
  • Dapat mengatasi persoalan lingkungan (dapur lebih bersih dan sehat), dampak jangka panjang dapat menghemat energi dan menjaga keberadaan hutan sekeliling.
  •  Harga tungku yang relatif mahal, menyebabkan masyarakat enggan menggunakan tungku tersebut sehingga proses penyebarluasan tungku kurang berhasil.



2.      Sustainability
Sustainability program mengukur keberlanjutan program di komunitas tersebut, hingga terjadi multiplier effect, transfer of knowledge, serta pengembangan kapasitas komunitas.
·      Pada Pedukuhan Gunungrejo, proyek ini berlangsung hingga dua putaran (putaran pertama terdapat dua Kepala Keluarga yang bersedia membuat tungku hemat energi, dan pada putaran kedua terdapat tujuh KK yang membuat). Namun, untuk selanjutnya proyek ini terhenti akibat kurang interest-nya warga.
·      Multiplier effect, transfer of knowledge, dan pengembangan komunitas kurang tampak keberhasilannya pada kegiatan tungku hemat energi di Pedukuhan Gunungrejo. Namun, kegiatan tungku hemat energi ini tidak hanya berjalan di Pedukuhan Gunungrejo. Banyak wilayah lain yang juga menerima kegiatan tungku hemat energi ini dan memetih hasil yang memuaskan, contohnya di Kecamatan Samigaluh. Kegiatan tungku hemat energi di Kecamatan Samigaluh sangat berhasil hingga dapat meningkatkan perekonomian warga (dari hasil penjualan tungku hemat energi buatan sendiri, serta penjualan olahan aren dengan menggunakan tungku hemat energi) serta berhasil menjadi percontohan bagi daerah lain.

3.      Replicability
Replicability program mengukur kemungkinan ditularkannya program di tempat lain serta situasi/ kasus spesifik yang terjadi di wilayah program diterapkan.
  • Program tungku sehat hemat energi ini secara keseluruhan dapat ditularkan ke daerah lain. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya Kecamatan Samigaluh sebagai tempat percontohan pembuatan dan manajemen penjualan tungku hemat energi yang sering mendapat kunjungan dari daerah-daerah lain.
  •  Kasus spesifik yang terjadi di Pedukuhan Gunungrejo, Kecamatan Kokap yang membuat program tungku ini kurang berhasil dibandingkan dengan program tungku di Kecamatan Samigaluh adalah:


  1. Masyarakat Gunungrejo belum memiliki pola pikir untuk jangka panjang. Masyarakat belum memahami manfaat keberadaan tungku hemat energi ini untuk jangka panjang (menjaga kesehatan paru-paru penduduk, dan menjaga kelestarian hutan di Kulonprogo)
  2.  Masyarakat Gunungrejo merasa harga tungku hemat energi terlalu mahal dibandingkan tungku tradisional. Sedangkan Masyarakat Samigaluh tidak merasakan hal tersebut, bahkan merasa terbantu dengan adanya tungku sehat hemat energi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar